-->

Karya Ilmiah Bahasa Indonesia Tentang Cerpen

Halo teman-teman...
Setelah kemarin saya share Makalah Bahasa Indonesia Ragam Bahasa, kali ini saya akan berbagi Karya Ilmiah Bahasa Indonesia Tentang Cerpen.

Cerpen begitu lekat dengan kehidupan kita sehari-hari, bahkan mungkin sejak kita kecil sebagian dari kita banyak yang sudah mengenalnya. Akan tetapi secara keseluruhan kita belum benar-benar mengenal apa saja langkah, tujuan, unsur-unsur dalam cerpen yang kita baca.

 Cerpen atau cerita pendek adalah bentuk prosa naratif fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi lain yang lebih panjang, seperti novella (dalam pengertian modern) dan novel. Karena singkatnya, cerita-cerita pendek yang sukses mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokoh, plot, tema, bahasa, dan insight secara lebih luas dibandingkan dengan fiksi yang lebih panjang. Ceritanya bisa dalam berbagai jenis.

Cerita pendek berasal dari anekdot, sebuah situasi yang digambarkan singkat yang dengan cepat tiba pada tujuannya, dengan paralel pada tradisi penceritaan lisan. Dengan munculnya novel yang realistis, cerita pendek berkembang sebagai sebuah miniatur, contohnya dalam cerita karya E.T.A. Hoffmann dan Anton Chekhov (wikipedia)

Bagi yang sedang mencari Karya Ilmiah Bahasa Indonesia Tentang Cerpen  mungkin tulisan ini dapat menjadi referensi, syukur kalau berguna. 

Saya sangat berterima kasih jika anda berkenan meninggalkan komentar.

BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Cerpen merupakan salah satu jenis karya sastra yang jauh lebih muda usianya dibandingkan dengan puisi dan novel. Tonggak penting penulisan cerpen di Indonesia dimulai Muhamad Kasim dan Suman Hasibuan pada awal 1910-an.
Di era modern sekarang ini, tema – tema dalam penulisan cerpen sudah sangat berfariasi dan beragam. Bukan hanya tema, jumlah pengarang atau penulis novel pun dapat dikatakan tidak sedikit lagi. Berfariasinya tema dalam cerpen, secara tidak langsung berakibat pada meningkatnya jumlah pembaca ataupun peminat bacaan-bacaan cerpen.
Akan tetapi, pasti ada sebagian diantara Anda yang belum mengetahui tentang cerpen. Bagaimana ciri-ciri cerpen ? Bagaimana unsur-unsur cerpen, dan banyak lagi. Sehubungan dengan hal tersebut, karya tulis ini akan membahas dan menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas.

B. Perumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan cerpen?
2. Bagaimanakah cara penulisan cerpen yang baik dan benar?
3. Apa sajakah unsur-unsur yang ada dalam cerpen?
4. Apa sajakah ciri-ciri cerpen?
5. Nilai-nilai apa sajakah yang kita dapatkan dalam pembacaan cerpen?

C. Ruang Lingkup
Didalam pembuatan karya tulis ini kami akan membahas mengenai defenisi cerpen. Kami juga akan membahas mengenai beberapa hal, yaitu :
1. Ciri-ciri yang terdapat pada cerpen.
2. Unsur-unsur yang ada pada cerpen.
3. Cara-cara penulisan cerpen yang baik dan benar.
4. Nilai-nilai yang terdapat dalam cerpen
5. Membaca Cerpen

D. Tujuan Penulisan
Berdasarkan latar belakang yang menjadi alasan kami membuat karya ilmiah ini, kami menyusun karya ilmiah ini dengan tujuan untuk:
1. Memberitahukan kepada pembaca menganai pengertian cerpen, ciri cerpen, unsur cerpen, cara menulis cerpen dan nilai-nilai yang terkandung dalam cerpen.
1. Menumbuhkan minat pembaca tentang karya sastra khususnya cerpen.
2. Untuk melengkapi tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia.
E. Manfaat Penulisan
Kami mengharapkan agar para pembaca dapat memperoleh manfaat setelah membaca karya tulis ini. Manfaat-manfaat tersebut diantaranya:
1. Menambah pengetahuan pembaca mengenai karya sastra terutama tentang cerpen.
2. Sebagai sumber referensi bagi para siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas Bahasa Indonesia khususnya yang berhubungan dengan cerpen.

F. Metode Penulisan
Dalam membuat karya ilmiah ini, kami menggunakan metode studi pustaka dan studi internet. Kami mempelajari beberapa buku referensi dan beberapa bacaan di internet yang sesuai dengan permasalahan yang kami bahas dalam karya ilmiah ini.

G. Sistematika Penulisan
Bab I PENDAHULUAN
Bab pertama ini terdiri atas beberapa subbab, yang meliputi: latar belakang, perumusan masalah, ruang lingkup, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan.

Bab II PEMBAHASAN
Bagian pembahasan ini meliputi: pengertian cerpen, ciri-ciri cerpen, unsur-unsur cerpen, menulis cerpen, dan nilai-nilai dalam cerpen.

BAB III PENUTUP
Pada bab terakhir ini terdapat dua subbab, yaitu sebagai berikut: kesimpulan dan saran.



BAB II 
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Cerpen
Cerpen atau dalam Bahasa Inggris dikenal dengan istilah short story merupakan salah satu genre sastra yang jauh lebih muda usianya dibandingkan dengan puisi dan novel. Tonggak penting sejarah penulisan cerpen di Indonesia dimulai Muhammad Kasim dan Suman Hasibuan pada awal 1910-an.
Cerita pendek apabila diuraikan menurut kata yang membentuknya berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut: Cerita artinya tuturan yang membentang bagaimana terjadinya suatu hal, sedangkan pendek berarti kisah pendek (kurang dari 10000 kata) yang memberikan kesan tunggal dan dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh dalam situasi atau suatu ketika (1988:165).

Menurut Phyllis Duganne, seorang wanita penulis dari Amerika, cerpen ialah susunan kalimat yang merupakan cerita yang mempunyai awal, bagian tengah, dan akhir. Semua cerpen mempunyai tema, yakni inti cerita atau gagasan yang ingin diucapkan cerita itu. Seperti halnya penamaannya, cerita pendek, cerpen ialah bentuk cerita yang dapat dibaca tuntas dalam sekali duduk.
Sedangkan menurut Susanto dalam Tarigan (1984:176), cerita pendek adalah cerita yang panjangnya sekitar 5000 kata atau kira-kira 17 halaman kuarto spasi rangkap yang terpusat dan lengkap pada dirinya sendiri.

Sementara itu, Sumardjo dan Saini (1997:37) mengatakan cerita pendek adalah cerita atau parasi (bukan analisis argumentatif) yang fiktif (tidak benar-benar terjadi dimana saja dan kapan saja, serta relatif pendek).

Dari pengertian diatas maka kami menyimpulkan bahwa cerpen adalah karangan nasihat yang bersifat fiktif, hanya mengisahkan satu peristiwa (konflik tunggal), tetapi menyelesaikan semua tema dan persoalan secara tuntas dan utuh. Awal cerita (opening) ditulis secara menarik dan mudah diingat oleh pembacanya. Kemudian pada bagian akhir  (ending) ditutup dengan suatu kejutan (surprise).

2.2 Ciri-Ciri Cerpen
Secara umum ciri-ciri cerpen meliputi:
∞ dibaca sekali duduk (1-2 jam),
∞ panjang cerita kurang dari  kata sepuluh ribu kata,
∞ ceritanya singkat dan padat,
∞ menggambarkan sebagian kehidupan tokoh,
∞ menggunakan alur tunggal,
∞ sumber cerita dari pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, dan
∞ ceritanya kurang kompleks dibandingkan dengan novel.

Ciri-ciri cerita pendek menurut pendapat Sumarjo dan Saini (1997:36) sebagai berikut.
∞ ceritanya pendek,
∞ bersifat rekaan (fiction),
∞ bersifat naratif, dan
∞ memiliki kesan tunggal.

Pendapat lain juga dikemukakan pula oleh Lubis dalam Tarigan (1985:177) sebagai berikut.
∞  Cerita pendek harus mengandung interprestasi pengarang tentang konsepsinya mengenai kehidupan, baik secara langsung maupun tidak langsung,
∞  Dalam sebuah cerita pendek terdapat sebuah insiden yang terutama menguasai jalan cerita,
∞ Cerita pendek harus mempunyai seorang yang menjadi pelaku atau tokoh utama, dan
∞  Cerita pendek harus satu efek atau kesan yang menarik.

Menurut Morris dalam Tarigan (1985:177), ciri-ciri cerita pendek adalah sebagai berikut.
∞  Ciri-ciri utama cerita pendek adalah singkat, padu, dan intensif (brevity, unuty, and intensity),
∞  Unsur-unsur cerita pendek adalah adegan, tokoh dan gerak (scene, character and action), dan
∞  Bahasa cerita pendek harus tajam, sugestif dan menarik perhatian (incicive, suggestive and alert).

2.3 Unsur-Unsur Cerpen
1. Unsur Intrinsik
Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra, unsur-unsur yang secara faktual dapat dijumpai jika orang membaca karya sastra. Unsur intrinsik dalam karya sastra khususnya cerpen, meliputi tokoh/ penokohan, alur (plot), gaya bahasa, sudut pandang, latar (setting), tema, dan amanat.

Berikut ini penjelasan mengenai unsur-unsur tersebut.
  a. Tokoh dan Karakter Tokoh
Istilah tokoh menunjuk pada orangnya, sedangkan watak, perwatakan, atau karakter menunjuk pada sifat dan sikap para tokoh yang menggambarkan kualitas pribadi seorang tokoh. Tokoh cerita menempati posisi strategis sebagai pembawa dan penyampai pesan, amanat, atau sesuatu yang sengaja ingin disampaikan kepada pembaca. Secara umum kita mengenal tokoh protagonis dan antagonis. Tokoh protagonis adalah tokoh yang kita kagumi, tokoh yang merupakan pengejahwantahan norma-norma, nilai-nilai yang ideal bagi kita. Tokoh protagonis menampilkan sesuatu yang sesuai dengan pandangan dan harapan pembaca. Adapun tokoh antagonis adalah tokoh yang menyebabkan terjadinya konflik.Tokoh antagonis merupakan penentang tokoh protaginis.
Ada beberapa cara penggambaran karakter tokoh dalam cerpen, diantaranya sebagai berikut.

»  Melalui apa yang diperbuat tokoh.
Hal ini berkaitan dengan bagaimana sang tokoh bersikap dalam situasi ketika tokoh harus mengambil keputusan.
Contoh:
Dengan terburu-buru Wei meninggalkan kota, dan peristiwa itu tak lama kemudian sudah terlupakan. Ia lantas pergi ke barat, ke ibu kota, dan karena dikecewakan oleh pinangan terakhir yang gagal itu, ia mengesampingkan pikirannya dari hal perkawinan. Tiga tahun kemudian, ia berhasil meminang keluarga Tan yang terkenal kebaikannya di dalam masyarakat.
(Cerpen “Sekar dan Gadisnya”, Ryke L.)

» Melalui ucapan-ucapan tokoh.
Dari apa yang diucapkan tokoh, kita dapat mengetahui karakternya.
Contoh:
“Apa yang tidak Ibu berikan kepadamu? Ibu bekerja keras supaya bisa menyekolahkanmu. Kau tak punya kewajiban apa-apa selain sekolah dan belajar. Ibu juga tidak pernah melarangmu melakukan apa saja kau sukai. Tapi, mestinya kamu ingat bahwa kewajiban  utamamu adalah belajar. Hargai sedikit jerih payah Ibu!” Diluar dugaanya anak itu menatapnya dengan berani. “Ibu tidak perlu susah payah menghidupu aku kalau Ibu keberatan. Aku bisa saja berhenti sekolah dan tidak usah menjadi tanggungan Ibu lagi.” Darah Sekar, Ibu anak itu serasa naik ke ubun-ubun.
(“Sekar dan Gadisnya”, Ryke L)

» Melalui penjelasan langsung.
Dalam hal ini penulis menggambarkan secara langsung karakter tokoh.
Contoh:
Memang, sebenarnya, semenjak dia datang, kami sudah membenci dia. Kami membenci bukan karena kami adalah orang-orang yang tidak baik, tapi karena dia selalu menciptakan suasana tidak enak. Perilaku dia sangat kejam. Dalam berburu dia tidak sekedar berusaha untuk membunuh namun menyiksa sebelum akhirnya membunuh. Maka, telah begitu banyak binatang menderita berkepanjangan, sebelum akhirnya dia habiskan dengan kejam. Cara dia makan juga benar-benar rakus. Bukan hanya itu. Dia juga suka mabuk-mabukan. Apabila dia sudah mabuk, maka dia menciptakan suasana yang benar-benar meresahkan dan memalukan. Dia sering meneriakkan kata-kata kotor, cabul, dan menjijikan. (Cerpen “Derabat”, Budi Darma)
» Melalui penggambaran fisik tokoh
» Melalui pikiran-pikirannya

b. Latar (setting)
Latar dalam sebuah cerita menunjuk pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Latar memberikan pijakan cerita secara konkret dan jelas. Hal ini penting untuk memberikan kesan realistis pada pembaca, menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah sungguh-sungguh ada dan terjadi. Unsur latar dapar dibedakan kedalam tiga pokok unsur, yaitu sebagai berikut:
» Latar Tempat
Latar tempat merujuk pada lokasi terjadinya peristiwa. Unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu.

» Latar Waktu
Latar waktu berhubungan dengan “kapan” terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan.

» Latar Sosial
Latar sosial merujuk pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Latar sosial dapat berupa kebiasaan hidup, istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap, serta hal-hal lainnya.

  c. Alur (Plot)
Alur adalah urutan peristiwa yang berdasarkan hukum sebab-akibat. Alur tidak hanya mengemukakan apa yang terjadi, akan tetapi menjelaskan mengapa hal ini terjadi. Kehadiran alur dapat membuat cerita berkesinambungan. Oleh karena itu, alur biasa disebut juga susunan cerita atau jalan cerita.
Tahapan alur dalam sebuah cerita dibagi atas beberapa bagian sebagai berikut.
– Pengantar: tahap ini merupakan tahap pembukaan cerita atau pemberian informasi awal, terutama berfungsi untuk melandasi cerita yang dikisahkan pada tahap berikutnya.
– Penampilan masalah: Tahap ini merupakan tahap awal munculnya konflik. Konflik itu sendiri akan berkembang menjadi konflik-konflik pada tahap berikutnya. Peristiwa yang menjadi inti cerita semakin mencengangkan dan menegangkan.
– Puncak ketegangan/ klimaks: konflik-konflik yang terjadi atau ditimpakan kepada para tokoh cerita mencapai tilik intensitas puncak. Klimaks sebuah cerita akan dialami oleh tokoh-tokoh utama yang berperan sebagai pelaku dan penderitaan terjadinya terjadinya konflik utama.
– Ketegangan menurun/ antiklimaks: Konflik yang telah mencapai klimaks diberi penyelesaian. Keteganagn dikendurkan. Konflik-konflik tambahan (jika ada) juga diberi jalan keluar, kemudian cerita diakhiri. Tahap ini disesuaikan dengan tahap akhir diatas.
– Penyelesaian/ resolusi: pada tahap ini konflik telah diatasi atau diselesaikan oleh para tokoh. Cerita dapat diakhiri dengan gembira (happy ending) atau sedih (sad ending)

Di dalam cerpen, dikenal tiga jenis alur yaitu sebagai berikut.
»   Pengarang menyusun peristiwa-peristiwa secara berurutan mulai dari Perkenalan sampai penyelesaian.
»   Pengarang menyusun peristiwa secara tidak berurutan. Pengarang dapat memulainya dari peristiwa terakhir atau peristiwa yang ada di tengah, kemudian menengok kembali pada peristiwa yang mendahuluinya. Susunan yang  demikian disebut alur sorot balik (flash back).
» Pengarang dapat pula menggunakan alur campuran, yaitu perpaduan antara alur maju dan alur mundur.
Selain itu, ada juga istilah alur erat dan alur longgar. Alur erat adalah jalinan peristiwa yang sangat padu sehingga apabila salah satu peristiwa ditiadakan maka dapat menggangu keutuhan cerita. Adapun alur longgar adalah jalinan peristiwa yang tidak begitu padu, sehingga apabila salah satu peristiwa ditiadakan tidak akan mengganggu jalan cerita.

  d. Sudut Pandang (Point Of View)
Sudut pandang adalah visi pengarang dalam memandang suatu peristiwa dalam cerita. Untuk mengetahui sudut pandang, kita dapat mengajukan pertanyaan siapakah yang menceritakan kisah tersebut? Sudut pandangan ini ada beberapa jenis, tetapi yang umum adalah:
» Sudut pandangan orang pertama; Lazim disebut point of view orang pertama. Pengarang menggunakan sudut pandang “aku” atau “saya”. Disini yang harus diperhatikan adalah pengarang harus netral dengan “aku” dan “saya” nya.

»  Sudut pandang orang ketiga; Biasanya pengarang menggunakan tokoh “ia” atau “dia”. Atau bisa juga dengan menyebut nama tokohnya seperti “Fajar”, “Rajab”, “Agung” dan lain-lain.
» Sudut pandang campuran; Dimana pengarang membaurkan antara pendapat pengarang dan tokoh-tokohnya. Seluruh kejadian dan aktivitas tokoh diberi komentar dan tafsiran, sehingga pembaca mendapat gambaran mengenai tokoh dan kejadian yang diceritakan. Dalam “Sekelumit Nyanyian Sunda”, Nasjah Djamin sangat baik menggunakan tekhnik ini.

»  Sudut pandangan yang berkuasa; Merupakan tekhnik yang menggunakan kekuasaan untuk menceritakan sesuatu sebagai pencipta. Sudup pandangan yang berkuasa ini membuat cerita sangat informatif. Sudut pangangan ini lebih cocok untuk cerita-cerita bertendens. Para punjaga Balai Pustaka banyak yang menggunakan tekhnik ini. Jika tidak hati-hati dan piawai sudut pandangan berkuasa akan menjadikan cerpen terasa menggurui.

  e. Gaya Bahasa
Gaya bahasa adalah cara khas penyusunan dan penyampaian dalam bentuk tulisan dan lisan. Ruang lingkup dalam tulisan meliputi penggunaan kalimat, pemilihan diksi, penggunaan majas, dan penghematan kata.Jadi, gaya bahasa merupakan seni pengungkapan seorang pengarang terhadap karyanya.

  f. Tema
Tema disebut juga ide cerita. Tema dapar berwujud pengamatan pengarang terhadap berbagai peristiwa dalam kehidupan ini. Dalam sebuah cerpen tema bisa disamakan dengan pondasi sebuah bangunan. Tidaklah mungkin mendirikan sebuah bangunan tanpa pondasi. Dengan kata lain tema adalah sebuah ide pokok, pikiran utama sebuah cerpen; pesan atau amanat. Dasar tolak untuk membentuk rangkaian cerita; dasar tolak untuk bercerita. Tidak mungkin sebuah cerita tidak mempunyai ide pokok. Yaitu sesuatu yang hendak disampaikan pengarang kepada para pembacanya. Sesuatu itu biasanya adalah masalah kehidupan, komentar pengarang mengenai kehidupan atau pandangan hidup si pengarang dalam menempuh kehidupan luas ini. Pengarang tidak dituntut menjelaskan temanya secara gamblang dan final, tetapi ia bisa saja hanya menyampaikan sebuah masalah kehidupan dan akhirnya terserah pembaca untuk menyikapi dan menyelesaikannya.
Cerpen yang baik dan besar biasanya menyajikan berbagai persoalan yang kompleks. Namun selalu punya pusat tema, yaitu pokok masalah yang mendominasi masalah lainnya dalam cerita itu. Misalnya cerpen “Salju Kapas Putih” karya Satyagraha Hoerip. Cerpen ini melukiskan pengalaman “aku” di negeri asing dengan baik sekali, tetapi secara tajam cerpen ini menyorot masalah moral. Tokoh “aku” dapat bertahan dari godaan berbuat serong karena pertimbangan moral.

  g. Amanat
Melalui amanat, pengarang dapat menyampaikan sesuatu, baik hal yang bersifat positif maupun negatif. Dengan kata lain amanat adalah pesan yang ingin disampaikan pengarang berupa pemecahan atau jalan keluar terhadap persoalan yang ada dalam cerita.

2.  Unsur Ekstrinsik
Unsur ekstrinsik adalah unsur yang menunjang karya sastra yang berasal dari luar karya sastra itu sendiri, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangun cerita sebuah karya. Yang termasuk unsur-unsur ekstrinsik adalah sebagai berikut:
1. Keadaan subjektivitas pengarang yang memiliki sikap, keyakinan dan pandangan hidup.
2. Psikologi pengarang (yang mencakup proses kreatifnya), psikologi pembaca, dan penerapan prinsip-prinsip psikologi dalam sastra.
3. Keadaan di lingkungan pengarang seperti ekonomi, politik, dan sosial.
4. Pandangan hidup,suatu bangsa dan berbagai karya seni lainnya.

2.4 Menulis Cerpen
Siapa bilang, menulis cerpen itu sulit. Banyak yang tidak bisa menulis pada akhirnya mampu mengalirkan idenya dengan mengalir begitu saja. Mungkin bagi Anda menulis cerpen itu sulit karena Anda tidak tahu cara-cara penulisan cerpen yang baik.
Walaupun kelihatannya sepele, menulis cerpen juga ada tekhniknya. Berikut adalah tekhnik dalam penulisan cerpen.
1.  Tanamkan Sugesti Untuk Menulis Cerpen
Menulis cerpen tidak sama sulitnya seperti Anda meminum puyer, bayangkan menukis itu sama seperti Anda menikmati sebatang coklat yang lezat. Pasti Anda akan merasakan sesuatu yang berbeda di dalamnya.

Berikut adalah sugesti yang dapat ditanamkan dalam diri Anda tentang menulis.
1. Biasakanlah tangan untuk mengetik atau menulis terlebih dahulu. Menulis apa saja. Jangan pernah ragu untuk menulis sesuatu itu. Anggap saja hasil tulisan hanya anda yang membaca, sehingga Anda tidak perlu ragu untuk memulainya.
2. Camkan dalam diri kalau, kalau Anda adalah seorang penulis. Camkan pula dalam diri, bahwa Anda bisa menulis. Sugesti inilah yang nantinya akan membawa Anda menjadi mencintai tulisan. Buatlah target-target yang membahagiakan untuk Anda.
3. Menulis itu sama seperti Anda berbicara. Jadi anggap saja, ketika menulis cerpen saat itu Anda sedang berbicara. Misalnya, Anda ingin menceritakan kejadian pengalaman dikejar anjing. Tulis dari langkah pertama sebelum kejadian, sampai kejadian itu berakhir.
4. Tanamkan dalam diri, suatu hari nanti Anda akan jadi penulis hebat. Idolakan seorang penulis terkenal, dan buat ia sebagai motivasi Anda. Bayangkan suatu saat Anda akan seperti dia.
Untuk penulisan awal, tidak usah peduli dengan EYD, tulis semua hal yang ingin Anda tulis sampai habis. Untuk pengoreksian, Anda bisa melakukannya jika tulisan benar-benar sudah jadi.
Menulis adalah sebuah proses ide kreatif. Anda tidak akan sukses dengan hanya membuat sebuah cerita. Sering-seringlah menulis maka Anda akan semakin kreatif.

2.  Langkah-Langkah Menulis Cerpen
1. Tentukan tema cerpen, tema adalah hal yang paling mendasar jika Anda ingin membuat sebuah tulisan.
2. Jika cerpen Anda berlatar belakang sejarah, atau bersetting daerah. Jangan lupa untuk mengumpulkan data-data, keterangan atau informasi yang berhubungan dengan cerpen tersebut.
3. Tentukan tokoh yang terlibat dalam cerpen tersebut.
4. Tentukan setting cerita, setting adalah tempat dimana cerpen itu dikisahkan.
5. Tentukan alur atau plot cerita.
6. Kembangkanlah cerita tersebut secara utuh.
7. Periksa ejaan diksi dan unsur-unsur kebahasaan dalam cerita tersebut.

3.  Membuat Cerpen Agar Menarik
Jika Anda sudah terbiasa dalam menulis cerpen, pasti akan bertanya-tanya apakah cerpen Anda menarik atau tidak, jangan pernah ragu untuk meminta kritik pada orang lain berkenaan dengan cerpen Anda. Tips dibawah ini akan membantu Anda untik menghasilkan cerita yang menarik.
1. Perbaiki cerpen Anda berdasarkan saran dan kritik dari seorang teman, cuek saja dengan berbagai macam kritik, toh nantinya itu adalah masukan untuk cerpen Anda kedepan.
2. Jangan pernah kehabisan dengan ide cerita, karena ide cerita itu sangat banyak disekeliling kita. Anda bisa menceritakan kejadian hari ini, kejadian teman, atau kisah yang mungkin saja tidak akan bisa terjadi (khayalan dan fiktif).
3. Banyak membaca, membaca akan membantu Anda dalam memperkaya diksi.
4. Setelah Anda menulis cerpen, jangan langsung diperbaiki. Selesai ditulis simpan saja dahulu. Setelah itu diamkan selama seminggu, sembari menunggu, buatlah cerpen yang lain. Karena seringnya Anda menulis akan semakin membuat imajinasi Anda berkembang. Setelah seminggu, coba buka kembali cerpen yang pernah Anda tulis, pasti Anda akan menemukan tulisan yang berbeda dari sebelumnya.


BAB III 
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan pada bab sebelumnya, kami menarik berbagai kesimpulan yaitu sebagai berikut.
1. Cerpen adalah karangan nasihat yang bersifat fiktif, hanya mengisahkan satu peristiwa (konflik tunggal), tetapi menyelesaikan semua tema dan persoalan secara tuntas dan utuh. Awal cerita (opening) ditulis secara menarik dan mudah diingat oleh pembacanya. Kemudian pada bagian akhir  (ending) ditutup dengan suatu kejutan (surprise).

2. Secara umum ciri-ciri cerpen meliputi:
∞ dibaca sekali duduk (1-2 jam),
∞ panjang cerita kurang dari 10.000 kata,
∞ ceritanya singkat dan padat,
∞ menggambarkan sebagian kehidupan tokoh,
∞ menggunakan alur tunggal,
∞ sumber cerita dari pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, dan
∞ ceritanya kurang kompleks dibandingkan dengan novel.

3. Unsur intrinsik dalam karya sastra khususnya cerpen, meliputi tokoh/ penokohan, alur (plot), gaya bahasa, sudut pandang, latar (setting), tema, dan amanat. Sedangkan yang termasuk unsur-unsur ekstrinsik adalah sebagai berikut:
1. Keadaan subjektivitas pengarang yang memiliki sikap, keyakinan dan pandangan hidup.
2. Psikologi pengarang (yang mencakup proses kreatifnya), psikologi pembaca, dan penerapan prinsip-prinsip psikologi dalam sastra.
3. Keadaan di lingkungan pengarang seperti ekonomi, politik, dan sosial.
4. Pandangan hidup,suatu bangsa dan berbagai karya seni lainnya.

4. Langkah-langkah menulis cerpen adalah sebagai berikut.
1. Tentukan tema cerpen, tema adalah hal yang paling mendasar jika Anda ingin membuat sebuah tulisan.
2. Jika cerpen Anda berlatar belakang sejarah, atau bersetting daerah. Jangan lupa untuk mengumpulkan data-data, keterangan atau informasi yang berhubungan dengan cerpen tersebut.
3. Tentukan tokoh yang terlibat dalam cerpen tersebut
4. Tentukan setting cerita, setting adalah tempat dimana cerpen itu dikisahkan
5. Tentukan alur atau plot cerita
6. Kembangkanlah cerita tersebut secara utuh
5. Nilai-nilai yang terkandung pada cerpen ada tiga yaitu nilai moral (berhubungan dengan budi pekerti, susila atau akhlak), nilai sosial (nilai yang berhubungan dengan masalah-masalah sosial), dan nilai budaya (nilai-nilai yang berhubungan dengan kebudayaan).

3.2. Saran
Dari pembahasan dalam karya ilmiah ini, saran kami adalah sebagai berikut:
1. Tingkatkanlah intensitas Anda untuk membaca, misalnya membaca cerpen dan bacaan-bacaan lainnya. Banyak manfaat membaca. Selain memperoleh hiburan, dengan dan melalui membaca, seseorang terbuka cakrawala pandangan dan pemikirannya.
2. Tanamkanlah nilai-nilai baik dalam cerpen ke dalam diri Anda, dengan demikian segala macam yang kita perbuat akan sesuai dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat.
3. Isilah waktu kosong Anda untuk hal-hal yang berguna, misalnya menulis. Banyak manfaat menulis. Untuk menuangkan pikiran kita adalah salah satunya. Selain itu, jika tulisan kita menarik dan diminati banyak orang maka Anda akan memperoleh banyak keuntungan. Disamping itu tulisan Anda juga dapat memotivasi banyak orang.

Kami menyadari sepenuhnya bahwa karya ilmiah ini masih belum sempurna dan untuk menjadi sempurna kami sangat membutuhkan masukan dari pihak lain. Untuk itu kami mengharapkan kepada semua pihak untuk memberikan berbagai masukan dan kritik demi perbaikan dan kesempurnaan karya ilmiah ini.



DAFTAR PUSTAKA

Cipta Sari, Dhian. 2010. Buku Sakti: Materi dan Rumus Lengkap 6 in 1 kelas XI IPA. Yogyakarta: Kendi Mas Media.
Santoso, Gunawan Budi, dkk. 2009. Terampil Berbahasa Indonesia 2. Jakarta: Pusat Perbukuan Depdiknas.
Utami, Sri, dkk. 2008. Bahasa dan Sastra Indonesia Untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta: Pusat Perbukuan Depdiknas.
Rahma Rahmaantika, Cerpen, 2011, Hal. 1, http://rahmarahmaantika.blogspot.com.
Unsilster, Pengertian Cerpen dan Ciri-Ciri Cerita Pendek, 2011, Hal. 1, http://unsilster.com.
Theron Parlin, Unsur dalam Sebuah Cerpen, 2012, Hal. 1, http://asiaaudiovisualrb09susilo.wordpress.com.
Wikipedia, Cerita Pendek, 2010, Hal. 1-2, http://id.wikipedia.org.


Demikian Karya Ilmiah Bahasa Indonesia Tentang Cerpen ini, semoga bermanfaat.

           
Iepunks
Saya Hanya mencoba menjadi orang yang bermanfaat dunia dan akhirat

Related Posts

There is no other posts in this category.

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter